Monday, 10 March 2014

Untitle 4

Siang tadi pelangi cukup dekat, mendemonstrasikan keindahannya, mencoba menjulurkan tangannya dengan sapaan "hai kak", ekspresi sang pelangi saat menyapa datar layaknya orang asing tapi bertingkah seakan telah kenal lama.

Tak mengapa,, memang seperti itulah yang kuinginkan, dua orang asing yang saling menyapa dengan berbagai keanehannya. 4.3.2014

Untitle 3

Hari ini tak hujan, hari ini malah masuk kategori cerah, akan tetapi kenapa pelangi itu muncul lagi? Dengan senyum terkembangnya.

Indah sekaligus berbahaya, penuh dengan kekuatan tapi juga berpotensi menghancurkan.

Walau senyumnya bukan tertuju pada sang bumi, tapi entah kenapa sang bumi tetap menganggapnya sebagai pelangi sekaligus matahari yang berotasi di dimensinya.

Indah, karena pelangi itu muncul tanpa ada nya hujan sebagai pembuka, berbahaya karena kemampuan melelehkannya bisa menjadikan sang bumi lupa diri, bahwa dia tidak akan dapat menyentuh Pelangi walau dia berusaha keras untuk menggapainya

Sebuah catatan iseng pelampiasan perkuliahan yang bias 3.3.2014

Untitle 2

Jalanan penuh lumpur dan lubang menjadi pengiring diri ini menuju tempat keheningan, petugas kasir yang terhardik oleh atasannya seakan menjadi karpet merah yang menyambut jiwa yang lapar akan inspirasi ini.

Iced coffee dan blueberry cheesecake adalah teman teman yang seakan bertanya dan terus melakukan hipotesis

"Kenapa kisahmu seperti ini? Kenapa kau selalu merasa bisa menangkap kabut yang tak tersentuh itu?"

Diri ini hanya bisa menjawab "hal itu tak perlu dipahami, hanya cukup diketahui, ya diketahui... krna paham dan tahu itu sangat berbeda dimensinya"

8.2.2014

Untitle 1

Aku adalah pejuang, rasa bosan, kantuk dan satu jenderal bersenjatakan huruf dan kalimat ala bedah buku adalah penjakahku.

Menghentak hentakan kaki ke bumi adalah caraku untuk bergerilya melawan rasa bosan. Adzan zuhur adalah temanku untuk beristirahat dari para penjajah itu.

sebuah catatan iseng di perkuliahan yang membosankan 11.12.13

Sunday, 2 March 2014

Resensi Artikel Pak Mung Pujanarko

Dari artikel yang saya baca, di artikel tersebut menyebutkan bahwa bisnis media massa idealnya adalah lahan anak anak Jurnalistik, sebagaimana kita ketahui, Sarjana Jurnalistik lebih memahami apa itu jurnalistik secara dasar maupun yang level lebih sulit.

Akan tetapi di sini kita liat, fenomena yang terjadi di sekeliling kita. Di mana para pemegang kendali media massa tidaklah ber background Jurnalistik pada saat mereka menuntut kuliah, Chairil Tanjung misalnya... beliau adalah pemilik dari transcorp yang sama sekali tidak memiliki background jurnalistik tapi cukup berhasil dalam menjalankan bisnis media massa nya

Tidak hanya pada sisi pemilik, para praktisi nya pun banyak yang non strata jurnalistik. Istilah "hidung Jurnalistik" yang dapat mencium dan memprediksi sebuah media massa agar menuju kesuksesan bukan lagi hanya milik kalangan Jurnalistik murni. Lahan ini sudah menjadi lahan universal.

Kenapa demikian? Hal ini disebabkan karena masih banyak fakultas Ilmu jurnalistik yang masih hanya berpegang pada teori semata, fasilitas yang ala kadarnya bahkan tertinggal.

Mahasiswa jurnalistik kebanyakan hanya dibekali ilmu teori

Friday, 13 December 2013

RESENSI NOVEL "Supernova 1"

Membaca novel "SUPERNOVA" Karya @deelestari benar2 merubah sudut pandang saya terhadap kehidupan

Manusia terkadang memperjuangkan sesuatu yg sebenarnya sudah dia miliki, entah itu cinta, gelar, status sosial atau apapun itu

Tapi pernahkah kita berpikir, kalau diri kita ini adalah sebuah keutuhan yang di analogikan seperti koin yg memiliki dua sisi

Terkadang apa yg kita perjuangkan utk kita miliki adalah sisi mata koin yg lainnya. Dgn kata lain, kita telah memilikinya tanpa disadari

Utk menyadari sisi mata koin yg lainnya, dibutuhkan sebuah "Knop" yg akan memutar sisi satu ke sisi yg lainnya

"Knop" ini lah yg disebut sbg berubahnya perspektif seseorang menuju persepktif yg lebih luas. Ketika knop itu digerakan.terbukalah fikiran

Proses evolusi perspektif manusia inilah yg menjadi pesan yg ingin disampaikan lewat Novel SUPERNOVA karya @deelestari.

Bravo utk @deelestari  :D kau jenius

Lepaskan keterikatan trhdp segala sesuatu, maka keutuhan akan mendekatimu - Supernova -

Tuesday, 10 December 2013

BROKEN WINGS

Entah sudah berapa kali proses ini terjadi, seperti loop yg terus memutar. Main basket, lutut nyeri, main basket, lutut nyeri, begitu seterusnya. Mungkin ini pepatah yg sering diucapkan para pujangga pujangga, "rela sakit demi sesuatu yg dicintai" yap, sudah hampir 6 bulan ini lutut gue selalu nyeri saat lompat, lari, naik tangga, bahkan saat bangkit dari duduk. Entah kelainan apa yang sedang gue alami. Dan rasa sakit ini semakin dahsyat ketika selesai latian basket. Terkadang lutut bengkak, tak bisa ditekuk, dan jika kena angin malam, terasa ngilu. Kemampuan lompatan dan daya ledak gue 70 persen menurun. Dan yang paling membuat gue ingin meninju muka sendiri adalah, di saat gue ga bisa nge bantu tim basket gue menang karena keadaan lutut gue yg sekarang.

Ibarat elang yg ingin menggapai pelangi, kini sayap elang itu sedang patah. Di mana keadaan fisik memaksa kita untuk menunda impian yang akan digapai.

Nir, lompat dong, drive terus lay up dong ! Teriakan dari rekan satu tim yang bisa gue bales hanya dengan senyum miris. Sangat tidak banget ketika teriakan itu gue bales dengan "ga bisa.. lutut gue lg sakit". Gue terjebak di dalam keadaan yang memaksa gue untuk terus bermain jelek, tidak maksimal, dan merepotkan tim.

Ya inilah gue.. seekor elang yang sedang mengalami sayap sayap patah.