Dari artikel yang saya baca, di artikel tersebut menyebutkan bahwa bisnis media massa idealnya adalah lahan anak anak Jurnalistik, sebagaimana kita ketahui, Sarjana Jurnalistik lebih memahami apa itu jurnalistik secara dasar maupun yang level lebih sulit.
Akan tetapi di sini kita liat, fenomena yang terjadi di sekeliling kita. Di mana para pemegang kendali media massa tidaklah ber background Jurnalistik pada saat mereka menuntut kuliah, Chairil Tanjung misalnya... beliau adalah pemilik dari transcorp yang sama sekali tidak memiliki background jurnalistik tapi cukup berhasil dalam menjalankan bisnis media massa nya
Tidak hanya pada sisi pemilik, para praktisi nya pun banyak yang non strata jurnalistik. Istilah "hidung Jurnalistik" yang dapat mencium dan memprediksi sebuah media massa agar menuju kesuksesan bukan lagi hanya milik kalangan Jurnalistik murni. Lahan ini sudah menjadi lahan universal.
Kenapa demikian? Hal ini disebabkan karena masih banyak fakultas Ilmu jurnalistik yang masih hanya berpegang pada teori semata, fasilitas yang ala kadarnya bahkan tertinggal.
Mahasiswa jurnalistik kebanyakan hanya dibekali ilmu teori